Jakarta – Pemerintah terus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pembangunan infrastruktur sumber daya udara. Presiden Prabowo Subianto meresmikan lima bendungan baru yang telah selesai dibangun pada tahun 2025 dan tersebar di empat provinsi di Indonesia.
Kelima penghentian tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan ketersediaan udara untuk sektor pertanian, mengurangi risiko banjir, menyediakan sumber air baku, hingga mendukung pengembangan energi terbarukan.
Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum, pembangunan lima bendungan tersebut berlangsung dalam kurun waktu 2015–2025 dengan total nilai investasi mencapai Rp9,79 triliun .
Bendungan yang diresmikan meliputi Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB); Bendungan Keureuto di Aceh Utara, Aceh; Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, Aceh; Bendungan Jlantah di Karanganyar, Jawa Tengah; serta Bendungan Sidan di Gianyar, Bali.
Dukung Puluhan Ribu Hektare Lahan Irigasi
Salah satu manfaat utama dari pembangunan lima bendungan tersebut adalah peningkatan layanan irigasi pertanian. Infrastruktur yang diproyeksikan ini mampu mendukung kebutuhan udara untuk lahan pertanian dengan luas total mencapai 39.540 hektare .
Bendungan Meninting di Lombok Barat memiliki panjang 418 meter dengan tinggi 74 meter. Bendungan ini memiliki kapasitas tampung sekitar 9,91 juta meter kubik dan luas penampungan mencapai 46,16 hektare.
Sementara itu, Bendungan Keureuto di Aceh Utara menjadi salah satu bendungan dengan kapasitas tampung terbesar, yakni sekitar 215,94 juta meter kubik. Bendungan tersebut memiliki panjang 386 meter, tinggi 74 meter, serta mampu mendukung layanan irigasi seluas 896,39 hektar.
Sedangkan Rukoh Bendungan di Kabupaten Pidie memiliki kapasitas tampung 128,65 juta meter kubik dengan luas penampungan sekitar 700 hektare. Bendungan ini juga menjadi bagian penting dalam mendukung kebutuhan air pertanian di wilayah Aceh.
Di Jawa Tengah, Bendungan Jlantah yang berada di Kabupaten Karanganyar memiliki panjang 404 meter dan kapasitas tampung 10,97 juta meter kubik. Infrastruktur ini mendukung pengelolaan udara untuk wilayah pertanian sekaligus membantu mengurangi risiko kekeringan.
Sementara itu, Bendungan Sidan di Gianyar, Bali, memiliki kapasitas tampung 5,76 juta meter kubik dengan luas seluas 37,15 hektare.
Kurangi Risiko Banjir hingga Dukung Energi Bersih
Selain mendukung sektor pertanian, keberadaan lima bendungan baru tersebut juga memberikan manfaat lain bagi masyarakat. Infrastruktur ini berfungsi sebagai pengontrol tata udara sehingga dapat membantu mengurangi potensi banjir di sekitar kawasan bendungan.
Pemerintah juga mengembangkan pemanfaatan bendungan untuk menyediakan air baku dengan total kapasitas sekitar 3,6 meter kubik per detik . Ketersediaan air baku tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung aktivitas ekonomi.
Tidak hanya itu, sejumlah endapan juga memiliki potensi untuk mendukung pengembangan energi bersih melalui pembangkit listrik tenaga mikrohidro maupun energi surya.
Dalam peresmian tersebut, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Bendungan-bendungan tersebut adalah simbol bahwa pemerintah Indonesia perlu bekerja lebih keras lagi agar bisa membangun lebih banyak infrastruktur. Bendungan bisa banyak membantu masyarakat,” ujar Presiden.
Dengan bertambahnya lima bendungan baru ini, pemerintah berharap ketahanan pangan, ketersediaan udara, serta pengelolaan sumber daya alam di berbagai daerah semakin kuat. Infrastruktur tersebut juga menjadi investasi jangka panjang untuk mendukung pembangunan nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.(red/lis)
0 Comments